nonton yuks…

..nonton..

..kencann..

kayanya dua kata itu uda bikin kami sakauw saking pengennya.
gimana mo nonton kalo kadang sabtu/minggu aja saya kadang harus rapat. suami juga kebetulan ngejar mo sidang bulan ini.

akhirnya hari kamis kemaren maksa harus nonton. karena ga mau ketinggalan film bagus lagi.
film terakhir yang kami tonton adalah Dawn of the Planet of the Apes. sebenernya belum lama banget sih itu, mungkin juni atau juli gitu yah. tapi mungkin saking penatnya kerja, kami dah pengen nonton lagi.
dulu waktu pacaran sih minimal sebulan sekali pasti nonton tapi kalo sekarang mah nunggu film yg reviewnya bagus aja.

dan untunglah pas ada film Interstellar ini. langsung deh semangat. sempet deg2an kalo film ini dah bakal cepet “turun” karena ada The Hunger Games: Mockingjay.
kebetulan lagi di Yogya baru ada gedung bioskop baru. harga masih promo pula hehe…

jadi cuss lah kami ke mall tempat bioskop itu. kami pilih yang jam 17 biar pas pulang kantor.
tadinya mo pilih yang jam 20 tapi kok ya malem banget dan besok paginya kan masih kudu masuk kerja.
persetujuan nonton sudah diberikan oleh eyangs karena mau ga mau lintang jadi di rumah eyangnya sampe malem.
nonton sore pulang kantor gitu sih alamat ga bakal ketemu si kucil. pulang nonton pasti bocah dah tidur. ya wis lah, maapkeun bapak ibumu ini ya nak. malemnya kan masih tetep tidur bareng.

filmnya kami sukaaaa…
walaupun kami datang telat 15 menit (salahkan jalanan yang padat merayap itu!)
walaupun saya ga terlalu ngerti tentang teori fisika/ astronomi
tapi kami menikmatinya.
menikmati film dan menikmati kencannya 🙂

walaupun abis nonton film itu, ada rasa ga enak sama eyangs kok pulang malem, pulang pas anak dah tidur.
untungnya di rumah si eyang baik2 aja. ceritain tingkahnya lintang hari ini gimana. si kucil itu baik2 sajah.
lega…

senang ih.
nonton lagi yuks haha (trus dicemberutin eyangs)..

benarkah wakil rakyat?

Pertarungan masih lanjutttt…
setelah lelah melihat pertarungan di pileg dan pilpres lalu, rakyat Indonesia masih disuguhi perebutan kekuasaan di gedung wakil rakyat. para wakil rakyat yang dipilih langsung oleh rakyat memainkan sandiwara politik bak pemain sinetron. semua membela kepentingan partai masing-masing.
kadang2 saya heran, sebenarnya bos-nya itu siapa sih? katanya wakil rakyat tapi kok ya manutttt banget sama ketua partainya. boleh dibilang ini berlaku untuk smua partai dari jaman orde baru. walaupun ketua partainya memiliki pikiran dan sikap yang kurang masuk akal tapi kok ya masih diikutin. sepertinya sih pada takut di-recall karena jadi anggota dewan kan terhormat, punya jabatan dan kekuasaan yang (mungkin) tak terbatas.
lha terus apa guna ya rakyat susah2 milih calon legislatif kalo akhirnya para wakil rakyat cuma mementingkan diri sendiri dan kepentingan elit partai (baca: ketua)?

mengecewakan, memprihatinkan, menggemaskan, menyedihkan kalo melihat kondisi negara ini saat ini. pesimis akan Indonesia yang lebih baik. walaupun saat pemilu kemaren memiliki harapan sangat besar untuk Indonesia tapi setelah melihat perkembangannya kok harapan itu pelan2 hilang.
sebuah tantangan besar bagi pemerintahan baru untuk menjalankan tugas2nya tanpa dukungan wakil rakyat. tapi rakyat tetap mendukung selama tetap on the right track.

sebenernya banyak curhatan yg pengen ditulis soal kondisi Indonesia tapi takutnya malah jadi keluhan yang ga uwis2. trus di-cap bisanya cuma ngeluh tapi ga bertindak apa2. jadi dicukupkan sekian saja.

ps: semoga para pemimpin, para pengambil kebijakan, para wakil rakyat diberi hikmat kebijaksanaan supaya orientasi mereka sungguh2 memberikan yang terbaik untuk seluruh rakyat Indonesia. aminnn

belajar dari kasus F

Hari-hari belakangan ini di medsos dan koran banyak berita tentang seorang mahasiswi yang terkena kasus akibat tulisannya di salah satu medsos. beritanya ga cuma heboh di yogya aja tapi juga sampe me-nasional.
Sebenernya saya sih ga terlalu ngikutin ceritanya. Tau juga dari WA temen2. Tapi namapun orang Yogya, beritanya jadi jauh lebih sering terdengar. Buat saya apa yang mbak F alami dan rasakan itu cukup wajar karena memang pada masa itu suasana Yogya baru kurang enak karena pasokan BBM yang kurang. Namun memang yang terasa kurang pantas adalah pilihan kata-katanya ketika curhat di medsos.
Sayangnya curhat itu dilakukan di medsos dimana bisa menyebar dengan mudah dan akhirnya semua orang jadi tahu. Di situlah dimulai “penghakiman”. Ada yang re-share dan menyebarkan, ada yang komen2 bernada kasar, ada yang cari2 identitas sampe tau kosnya di mana, bahkan ada yang bikin akun palsu mirip akunnya mbak F. Akhirnya masalah melebar juga sampe ke masalah etnis. Parah kan..

Sebenarnya di dunia nyata, kita pasti juga kesel, apalagi urusan antri mengantri. Saya aja gak ikutan antri bensin waktu itu, males, wong di smua pom bensin antrian motor mengular, gak pagi ga siang ga malem. Tapiii pernyataan rasa kesel kan juga ga bisa sembarangan. Paling aman ya marah2 aja sendiri di dalam mobil/motor atau cerita ngomel2 ke suami/temen kantor.

Terkait masalah mbak F ini, kabarnya ada komentar2 yang memojokkan etnis asal mbak F ini dan menginginkan semua etnis tersebut pergi dari Yogya. Nah lho.. gimana kalo beneran itu terjadi dan dibalas dengan “diusir”nya orang Jawa dari daerah lain. Jadi perang antar saudara antar suku kan?
Memang masalah mbak F ga cuma sekedar curhat karena antri bensin tapi juga curhat/status2nya yang lain, yang membawa-bawa Yogya dengan kata2 yang kurang pantas. Cukup wajarlah jika banyak orang yang marah. Akhirnya sampe ke polisi.
Beritanya, sekarang sedang dilakukan mediasi supaya masalah ini tidak membesar dan menjaga situasi Yogya tetap kondusif. Karena gimanapun Yogya ini banyak pendatang jadi harus saling menghormati. Tuan rumah harus baik dan ramah, tamu juga harus santun dalam bersikap.

Hal yg bisa dipetik dari kasus ini (dan banyak kasus serupa lainnya), kita kudu berhati2 dalam curhat dan menulis status di berbagai medsos. Memang itu adalah akun pribadi tapi karena bisa diakses oleh banyak orang maka hal itu bukan menjadi hal yang pribadi lagi. Dampak dari rangkaian kata yang kita ciptakan juga tidak bisa diperkirakan. Tetaplah bijak dan santun.

Coblosan

Tanggal 9 juli.. Kita pesta demokrasi…

Akhirnya.. tanggal 9 juli juga. Sungguh sangat menantikan datangnya hari itu. Sebenernya sih karena sudah bosan lihat perang di semua media. Pengennya smua cepat selesai dan hidup normal lagi. Ga ada caci maki dan marah2an antar teman, antar tetangga, bahkan antar saudara.

Jadi gunakan hak pilih kita besok. Pilihlah sesuai dengan hati nurani. Semua capres dan cawapres memiliki kelebihan dan kekurangan masing2. Jadi pilihlah yang sesuai dengan kebutuhan anda.

Jangan lupa, setelah memilih masih ada kewajiban kita. Sebagai rakyat, kita punya hak untuk mengawasi jalannya pemerintahan supaya pemerintahan berjalan di jalan yang benar. Tetaplah kritis dan bersuara aktif karena “kekuatan rakyat” memiliki arti yang sangat besar bagi sebuah bangsa.

Semoga Pilpres besok berjalan lancar, tidak ada kecurangan walaupun sebetulnya tanda2 ke arah sana sudah ada 😦
Semoga yang pasangan yang kalah bisa menerima dengan kebesaran hati (termasuk para pengikut2nya)
Semoga Presiden dan Wapres terpilih bisa menjalankan pemerintahan yang bersih, tulus, sungguh2 bekerja dan profesional
Semoga Indonesia bisa lebih baik dan lebih maju, rakyatnya semkin sejahtera merata (bukan yang kaya tambah kaya dan miskin tambah miskin)

Selamat memilih..
Salam

mata najwa OS

MNOS

Huhuuu… ga bisa nonton ini deh.
Ga kebagian tiket 😦
Sold out kabeh!
6000 tempat duduk!

Emang awalnya agak niat sih nontonnya. Kan pas jam kantor tuh. Tapi ternyata temen2 juga banyak yang pengen nonton. Toh kantor cuma ampe jam 3 dan tempatnya juga tinggal jalan aja dari kantor.
Lalu dikirimlah e-mail pendaftaran. Eh tapi uda ga dapet juga.
Ya wis..
Padahal ada Ridwan Kamil.
Pengen euy liat dia sharing pengalaman dengan Kota Bandungnya itu.
Ah seandainya Yogya punya pemimpin daerah kaya beliau. Sepertinya bakal banyak ruang publik yang ok deh.

Tadi pas siang keluar kantor, banyak bis yang nongkrong di depan GSP, tempat acara MNOS.
Pantessss 6000 tiket langsung abis.
Baiklah. Ga sabar nunggu ditayangin di TV.

masa tua

Akhir2 ini berita tentang pejabat negara yang ditangkap oleh KPK sedang hit lagi. Apalagi tentang mantan ketua lembaga tinggi negara yang baru saja pensiun dari jabatannya. Tindakannya di masa lalu membawa beliau ke dalam perkara di masa tuanya saat ini. Sungguh miris sebenarnya, sudah (cukup) sepuh tapi masih harus berhadapan dengan perkara hukum, terlepas dari benar atau tidaknya langkah beliau di masa lalu biarlah hukum yang membuktikannya. Di masa pensiunnya, mungkin saja sebetulnya beliau merindukan kehidupan yang lebih santai tapi tetap produktif. Masih bisa kumpul bersama cucu tapi juga tetap menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk bangsa.

happy-family-12024651

Melihat kasus ini, saya jadi melihat keempat orangtua saya. Mereka semua masih tergolong produktif di usia pensiun. Melihat umurnya semua seharusnya sudah pensiun wong sudah di atas 60 tahun. Tapi ternyata untuk bapak ibu mertua, masa kerjanya diperpanjang jadi akhirnya beliau berdua masih mengajar. Sementara itu bapak ibu saya, walaupun sudah tidak bekerja secara formal tetapi masih aktif di organisasi. Apalagi si bapak masih wira wiri kesana kemari sendirian. Yang menjadi kesamaan dari mereka adalah kenikmatan masa tua bersama cucu. Berhubung cucu baru satu untuk kedua pihak jadilah si cucu ini dikangeni terus stiap hari. Bapak ibu saya lebih beruntung karena setiap hari bertemu cucu wong cucunya memang dititip ke rumah mereka 😀 Tapi bapak ibu mertua selalu menelepon setiap hari. Sehari bisa 3-4 kali hanya untuk mendengarkan suara si cucu. Apalagi si cucu ini udah pinter cerita jadilah mereka seneng banget mendengarnya. Bahagia itu sederhana 🙂

Baca lebih lanjut

jajan atau di rumah?

kebiasaan makan

tulisan lengkapnya di http://kuliner.kompas.com/read/2013/06/09/0812252/Yang.Jajan.dan.yang.Rumahan

aku banget!!!!
Pertama kali baca artikel ini di koran Kompas rasanya langsung familiar. Ini kami banget!!!

Artikel ini sangat sangat sangat mencerminkan keluargaku dan keluarga suami. Gaya keluarga kami masing-masing berkumpul, cara keluarga kami masing-masing menikmati makanan itu berbeda. Yang satu suka makan di luar, yang satu hobi banget makan masakan rumah. Awalnya sebenarnya saya shock dengan perbedaan itu walaupun lama-lama menjadi maklum. Dan ketika baca artikel ini langsung manggut2 dan “oh ternyata gitu ya”. Emang dari sononya dah beda. Lega. Smakin menerima kenyataan deh 🙂

Orangtua dan mertua saya sama-sama orang Jawa. Tapi kebiasannya sungguh sangat berbeda.

Ayah saya orang Solo sedangkan ibu saya orang Yogya. Keluarga besar ayah saya hobi makan dan kami sering sekali pergi makan keluar rame-rame. Setiap kumpul pasti makan keluar. Lebih asik ngobrol2 sambil menikmati makanan enak di tempat makan enak. Itu berlaku di mana saja, dalam acara apa saja. Kecuali kalo pas Idul Fitri ya kami kumpul di rumah bude dengan makanan rumahan.

Keluarga ibu saya juga lebih sering begitu. Kumpul2 dengan makan di luar. Misalnya pun kumpul di rumah saudara, makanannya pasti pesan catering atau sistem pot luck. Jadi ga ada tuh yang namanya tuan rumah masak sendiri semua makanan dalam jumlah banyak. Semua simpel, ga repot, dan pastinya makanannya enak.

Baca lebih lanjut