jajan atau di rumah?

kebiasaan makan

tulisan lengkapnya di http://kuliner.kompas.com/read/2013/06/09/0812252/Yang.Jajan.dan.yang.Rumahan

aku banget!!!!
Pertama kali baca artikel ini di koran Kompas rasanya langsung familiar. Ini kami banget!!!

Artikel ini sangat sangat sangat mencerminkan keluargaku dan keluarga suami. Gaya keluarga kami masing-masing berkumpul, cara keluarga kami masing-masing menikmati makanan itu berbeda. Yang satu suka makan di luar, yang satu hobi banget makan masakan rumah. Awalnya sebenarnya saya shock dengan perbedaan itu walaupun lama-lama menjadi maklum. Dan ketika baca artikel ini langsung manggut2 dan “oh ternyata gitu ya”. Emang dari sononya dah beda. Lega. Smakin menerima kenyataan deh 🙂

Orangtua dan mertua saya sama-sama orang Jawa. Tapi kebiasannya sungguh sangat berbeda.

Ayah saya orang Solo sedangkan ibu saya orang Yogya. Keluarga besar ayah saya hobi makan dan kami sering sekali pergi makan keluar rame-rame. Setiap kumpul pasti makan keluar. Lebih asik ngobrol2 sambil menikmati makanan enak di tempat makan enak. Itu berlaku di mana saja, dalam acara apa saja. Kecuali kalo pas Idul Fitri ya kami kumpul di rumah bude dengan makanan rumahan.

Keluarga ibu saya juga lebih sering begitu. Kumpul2 dengan makan di luar. Misalnya pun kumpul di rumah saudara, makanannya pasti pesan catering atau sistem pot luck. Jadi ga ada tuh yang namanya tuan rumah masak sendiri semua makanan dalam jumlah banyak. Semua simpel, ga repot, dan pastinya makanannya enak.

Lain lagi dengan keluarga suami. Bapak dan ibu mertua saya sama-sama orang Yogya asli. Walaupun beliau berdua tidak tinggal di Yogya tapi sebagian besar keluarga ada di Yogya. Dan tradisinya itu ternyata Yogya banget hehe.. Setiap berkumpul pasti makanan dimasak sendiri. Jarang banget yang beli. Jadi ya yang perempuan2 itu ada di dapur. Yang satu motong ini, yang lain petik itu, yang lain lagi bersihin apa. Pokoknya semua sibuk. Dan masakan jadi trus dimakan bersama2. Trus sibuk lagi cuci2. Susah bener ah (menurut saya). Tapi mereka smua tetap enjoy, tetap seneng. Pertemuan keluarga skala besar atau kecil, smua disiapin sendiri. Masakannya ga cuma 1 sayur plus 1 lauk tapi banyak sayur dan banyak lauk plus makanan/minuman ringan. Pfiuhhh…

Sebenernya saya cukup kaget dengan kebiasaan keluarga suami (boleh dibilang ga suka). Nyaris tidak pernah makan di luar. Ibu selalu siap sedia masak apapun. Tidak merasa susah, tidak merasa capek dan tidak merasa repot ngurus printilan memasak. Salut. Saya yang jadi minder dengan kebiasaan ini. Kan artinya saya harus siap bantu2 di dapur: masak dan cuci2. Cuci2 gampang lah ya, tapi kalo masak, itu pe-er banget deh. Dan untungnya ibu saya ini baik hati, tidak menuntut saya memasak. Kebetulan suami juga bukan yang “anak masakan ibu” karena sejak SMA dia dah sekolah di luar kota, jauh dari ortu. Jadi tugas saya cuma potong2 dan liat ibu masak. Plus cuci2 piring yang saya lakukan dengan senang hati 🙂

Dan setelah baca artikel koran di atas, saya jadi tahu kenapa perbedaan itu ada. Karena saya dibesarkan dengan cara Solo dan suami dibesarkan dengan cara Yogya. Hebat banget deh. Wilayahnya deketan dan bahkan satu keturunan tapi dulu terpisah karena dipisahkan oleh Belanda melalui perjanjian Giyanti, memiliki kebiasaan menikmati makanan yang berbeda. Menurut artikel ini, karena Solo merupakan kota dagang dengan banyak pendatang dan gaya hidupnya juga lebih hedonis termasuk tradisi keplek ilat (memanjakan lidah). Sementara di Yogya dikenal istilah ojo ninggal pawon anget, yang mencerminkan budaya makan di rumah.

Makanan di Solo luar biasa enaknya, makanan di Yogya enak juga (tapi lebih banyak yg enak di Solo 😀 ). Sekarang kami malah bisa menikmati keduanya. Makan di luar ayo, makan di rumah ya tak apa. Yang penting yang dimakan itu UENAKKK 😀

Iklan

4 pemikiran pada “jajan atau di rumah?

  1. Iiihhh, kalo aku kok tetep lebih seneng makan makanan bikinan rumah ya, Li? Jadi kalo mudik ke banjarnegara, aku seneenggg soalnya ibuku masak2 gitu buat anak mantu dan cucunya ini. Sama kalo mudik ke ibu mertua di cirebon, beliau juga rajiiinnn banget masakin buat kami. Trus semua adiknya baginda raja ngumpul, makan deh rame2. Wuaaahh. Puwaaaassss…! 🙂
    Btw, aku lebih seneng bantuin masak, soalnya nggak suka cuci piring, hahaha…

    1. masakan ibu emang tiada duanya ya mbak. ngangeni.
      tapi kadang2 hasrat pengen jajan itu selalu ada. niat baiknya sih biar ibu ga kecapekan masak tapi modusnya ya pengen wisata kuliner 😀

  2. Itu artikel udah cukup lama aku baca di Kompas Minggu, masih ada ya di versi online? Jadi, setelah menemani ibu mertua turun ke dapur, apakah sekarang udah bisa masak? 😀

    1. iya mbak, aku bacanya jg dah lama tp baru sempet kutulis skr :p
      haha.. tetep blm berani masak yg susah2. cm buat konsumsi anak. pasti msh kalah jauh ma ibu mertua 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s