benarkah wakil rakyat?

Pertarungan masih lanjutttt…
setelah lelah melihat pertarungan di pileg dan pilpres lalu, rakyat Indonesia masih disuguhi perebutan kekuasaan di gedung wakil rakyat. para wakil rakyat yang dipilih langsung oleh rakyat memainkan sandiwara politik bak pemain sinetron. semua membela kepentingan partai masing-masing.
kadang2 saya heran, sebenarnya bos-nya itu siapa sih? katanya wakil rakyat tapi kok ya manutttt banget sama ketua partainya. boleh dibilang ini berlaku untuk smua partai dari jaman orde baru. walaupun ketua partainya memiliki pikiran dan sikap yang kurang masuk akal tapi kok ya masih diikutin. sepertinya sih pada takut di-recall karena jadi anggota dewan kan terhormat, punya jabatan dan kekuasaan yang (mungkin) tak terbatas.
lha terus apa guna ya rakyat susah2 milih calon legislatif kalo akhirnya para wakil rakyat cuma mementingkan diri sendiri dan kepentingan elit partai (baca: ketua)?

mengecewakan, memprihatinkan, menggemaskan, menyedihkan kalo melihat kondisi negara ini saat ini. pesimis akan Indonesia yang lebih baik. walaupun saat pemilu kemaren memiliki harapan sangat besar untuk Indonesia tapi setelah melihat perkembangannya kok harapan itu pelan2 hilang.
sebuah tantangan besar bagi pemerintahan baru untuk menjalankan tugas2nya tanpa dukungan wakil rakyat. tapi rakyat tetap mendukung selama tetap on the right track.

sebenernya banyak curhatan yg pengen ditulis soal kondisi Indonesia tapi takutnya malah jadi keluhan yang ga uwis2. trus di-cap bisanya cuma ngeluh tapi ga bertindak apa2. jadi dicukupkan sekian saja.

ps: semoga para pemimpin, para pengambil kebijakan, para wakil rakyat diberi hikmat kebijaksanaan supaya orientasi mereka sungguh2 memberikan yang terbaik untuk seluruh rakyat Indonesia. aminnn

Iklan

belajar dari kasus F

Hari-hari belakangan ini di medsos dan koran banyak berita tentang seorang mahasiswi yang terkena kasus akibat tulisannya di salah satu medsos. beritanya ga cuma heboh di yogya aja tapi juga sampe me-nasional.
Sebenernya saya sih ga terlalu ngikutin ceritanya. Tau juga dari WA temen2. Tapi namapun orang Yogya, beritanya jadi jauh lebih sering terdengar. Buat saya apa yang mbak F alami dan rasakan itu cukup wajar karena memang pada masa itu suasana Yogya baru kurang enak karena pasokan BBM yang kurang. Namun memang yang terasa kurang pantas adalah pilihan kata-katanya ketika curhat di medsos.
Sayangnya curhat itu dilakukan di medsos dimana bisa menyebar dengan mudah dan akhirnya semua orang jadi tahu. Di situlah dimulai “penghakiman”. Ada yang re-share dan menyebarkan, ada yang komen2 bernada kasar, ada yang cari2 identitas sampe tau kosnya di mana, bahkan ada yang bikin akun palsu mirip akunnya mbak F. Akhirnya masalah melebar juga sampe ke masalah etnis. Parah kan..

Sebenarnya di dunia nyata, kita pasti juga kesel, apalagi urusan antri mengantri. Saya aja gak ikutan antri bensin waktu itu, males, wong di smua pom bensin antrian motor mengular, gak pagi ga siang ga malem. Tapiii pernyataan rasa kesel kan juga ga bisa sembarangan. Paling aman ya marah2 aja sendiri di dalam mobil/motor atau cerita ngomel2 ke suami/temen kantor.

Terkait masalah mbak F ini, kabarnya ada komentar2 yang memojokkan etnis asal mbak F ini dan menginginkan semua etnis tersebut pergi dari Yogya. Nah lho.. gimana kalo beneran itu terjadi dan dibalas dengan “diusir”nya orang Jawa dari daerah lain. Jadi perang antar saudara antar suku kan?
Memang masalah mbak F ga cuma sekedar curhat karena antri bensin tapi juga curhat/status2nya yang lain, yang membawa-bawa Yogya dengan kata2 yang kurang pantas. Cukup wajarlah jika banyak orang yang marah. Akhirnya sampe ke polisi.
Beritanya, sekarang sedang dilakukan mediasi supaya masalah ini tidak membesar dan menjaga situasi Yogya tetap kondusif. Karena gimanapun Yogya ini banyak pendatang jadi harus saling menghormati. Tuan rumah harus baik dan ramah, tamu juga harus santun dalam bersikap.

Hal yg bisa dipetik dari kasus ini (dan banyak kasus serupa lainnya), kita kudu berhati2 dalam curhat dan menulis status di berbagai medsos. Memang itu adalah akun pribadi tapi karena bisa diakses oleh banyak orang maka hal itu bukan menjadi hal yang pribadi lagi. Dampak dari rangkaian kata yang kita ciptakan juga tidak bisa diperkirakan. Tetaplah bijak dan santun.

Coblosan

Tanggal 9 juli.. Kita pesta demokrasi…

Akhirnya.. tanggal 9 juli juga. Sungguh sangat menantikan datangnya hari itu. Sebenernya sih karena sudah bosan lihat perang di semua media. Pengennya smua cepat selesai dan hidup normal lagi. Ga ada caci maki dan marah2an antar teman, antar tetangga, bahkan antar saudara.

Jadi gunakan hak pilih kita besok. Pilihlah sesuai dengan hati nurani. Semua capres dan cawapres memiliki kelebihan dan kekurangan masing2. Jadi pilihlah yang sesuai dengan kebutuhan anda.

Jangan lupa, setelah memilih masih ada kewajiban kita. Sebagai rakyat, kita punya hak untuk mengawasi jalannya pemerintahan supaya pemerintahan berjalan di jalan yang benar. Tetaplah kritis dan bersuara aktif karena “kekuatan rakyat” memiliki arti yang sangat besar bagi sebuah bangsa.

Semoga Pilpres besok berjalan lancar, tidak ada kecurangan walaupun sebetulnya tanda2 ke arah sana sudah ada 😦
Semoga yang pasangan yang kalah bisa menerima dengan kebesaran hati (termasuk para pengikut2nya)
Semoga Presiden dan Wapres terpilih bisa menjalankan pemerintahan yang bersih, tulus, sungguh2 bekerja dan profesional
Semoga Indonesia bisa lebih baik dan lebih maju, rakyatnya semkin sejahtera merata (bukan yang kaya tambah kaya dan miskin tambah miskin)

Selamat memilih..
Salam

caleg oh caleg

Abis ngobrol2 sama temen2 kantor tentang polah caleg di daerah mereka.
Ternyata banyak yang dapet “serangan” dari para caleg ya, baik secara individu maupun secara komunal.
Kami pribadi sekeluarga emang belum pernah mendapat sesuatu dari para caleg. Ntah kenapa. Mungkin karena tinggal di perumahan jadi ya relatif bersih lah. Kalo cuma selebaran yang dilempar di halaman ataupun diselipin di koran mah sudah biasa. Kalo yang tinggal di kampungnya nggak tau deh, mungkin pada dapet juga.
Yang jelas, kata temen yang seorang Pak RW, biaya sosialisasi di kampung itu bisa sampe 2 juta. Itu belum termasuk biaya ngasih-ngasih sesuatu ya. Jadi di kas kampungnya dia akhirnya ada dana tambahan kira2 hampir 10 juta. Hasil dari dikasi para caleg.
Baca lebih lanjut

harga gila

koran harga rumah
sumber: http://jogja.tribunnews.com/2014/03/24/harga-gila-rumah-di-yogya/

Ah.. artikel koran ini sungguh menggambarkan suara hatiku 🙂
“Hampir gila” kami cari rumah yang terjangkau dan lokasi yang tidak jauh dari kota. Pening liat brosur perumahan. Beneran deh. Harganya itu lhoh.. Dapet brosur harga murah tapi jauhnya banget.
Emang bener ya teori lokasi itu. Lokasi itu faktor penting. Lokasi favorit harga selangit.

Yogyakarta tidak cuma terkenal karena pendidikannya tapi juga karena pariwisata. Nggak heran, bisnis properti banyak tumbuh di sana. Dalam setahun, bisa puluhan hotel dan perumahan yang dibangun.
Pertanyaannya: siapa yang beli? Ntahlah. Saya ga punya data resminya.

Katanya harga rumahnya termahal kedua setelah Bali, sebelum Jakarta di lokasi strategis.
Yogyakarta dibandingkan dengan Bali dan Jakarta. Coba saya kasih data resmi BPS ya. Indikator yang saya pakai hanya PDRB per kapita dan Tingkat kemiskinan.
PDRB per kapita biasa digunakan sebagai pendekatan kesejahteraan penduduk di suatu wilayah, semakin tinggi tentu semakin sejahtera penduduknya. PDRB sendiri merupakan pendapatan dinikmati oleh penduduk suatu wilayah dengan seluruh kemampuan sumber dayanya. Per kapita artinya per penduduk. Jadi PDRB per kapita menunjukkan rata-rata nilai pendapatan setiap penduduk, termasuk bayi dan manula.

perbandingan pendapatan 4
sumber: bps diy, bps bali, bps dki jakarta

Berdasarkan data BPS tahun 2012 tersebut, yang terbaik adalah DKI Jakarta lalu Bali, setelah itu baru Yogyakarta. DKI Jakarta tiada tandingnya lah. Kalo Yogyakarta tentu saja pendapatan per kapitanya relatif kecil karena sebagian besar penduduknya bekerja di sektor pertanian dan perdagangan.

Nah kalo begitu kenapa harga tanah di Yogya relatif mahal?
INVESTASI
Yogyakarta dikenal sebagai daerah yang nyaman untuk ditinggali. Fasilitas pendidikan banyak dan tidak perlu diragukan kualitasnya. Fasilitas kesehatan relatif bagus. Fasilitas penunjang lainnya juga tersedia. Oleh karena itu, Yogyakarta masih menjadi favorit orangtua untuk menyekolahkan anaknya atau untuk pensiunan yang ingin leyeh2 enak.
Oleh karena itu, punya rumah di Yogya itu investasi wajib. Bisa buat tinggal kalo anaknya sekolah nanti ataupun tempat untu menghabiskan masa tua. Makanya bisnis properti di Yogya relatif tumbuh.
Siapa yang beli? Sedikit banyak bukan orang yang tinggal di Yogya (tinggal sehari2 dan bekerja yah). Banyak kok rumah2 yang kosong karena memang pemiliknya tidak tinggal di Yogya. Akhirnya cuma dikontrakkan atau dijadikan bisnis kos-kosan. Mereka ini relatif cukup berada sehingga mampu membeli dengan harga yang relatif mahal. Lha dengan harga yang relatif sama dengan Jakarta tapi bisa dapat lingkungan yang lebih nyaman. Coba siapa yang tidak tertarik?

Tapiiii… dampaknya adalah “tersingkir”nya warga asli Yogya. Mereka harus punya banyak uang untuk membeli rumah. Dengan pendapatan yang relatif lebih sedikit daripada pendapatan di kota besar lainnya, maka punya rumah cukup menjadi pe-er besar bagi sebagian warganya. Punya rumahnya juga harus di pinggir2, jauh dari fasilitas2 umum/sosial yang berkualitas. Mo ke mana2 kudu macet bersama sesama warga pinggiran lainnya.
Harga tanah di pinggiran Sleman mulai 1,5 jt/m. Harga rumah di pinggiran Sleman kisarannya mulai dari 350 juta. Ini beneran pinggir luar ya. Bukan pinggiran yang mepet dengan daerah Kota Yogyakarta.

Saya belum bisa membayangkan apa jadinya Yogyakarta 10 tahun ke depan. Macet, banyak perumahan, semakin banyak daerah tergenang di musim hujan. Apakah masih nyaman untuk ditinggali? Mungkin tidak.

Bukannya saya tidak ingin Yogya maju. Tapi semoga kemajuan Yogya tidak melindas warga asli. Warga yang tetap menjaga kearifan lokalnya untuk menghadapi kemajuan jaman.

dari bisa sampai lupa :)

Di jaman semua orang harus bisa ada di banyak tempat dalam waktu singkat, kemampuan yang satu ini sangat dibutuhkan. Karena transportasi umum di Indonesia (pada umumnya) masih belum bisa diandalkan soal ketersediaan dan ketepatan waktunya maka membawa kendaraan sendiri menjadi salah satu solusi bagi sebagian besar orang saat ini. Dampak besarnya adalah kemacetan yang semakin luar biasa pfiuhhh…

Saya termasuk orang yang membuat kemacetan itu karena setiap hari saya membawa kendaraan sendiri ke kantor. Kadang-kadang barengan ma suami kalo pas suami ga punya acara pagi atau sore. Di Yogya ini lebih enak pake motor daripada mobil, jadinya kita ke mana-mana naik motor kecuali pas pergi bareng anak dan keluarga lainnya. Keuntungan naik motor ini sih yang pasti bisa nyelip-nyelip. Kalo berangkat pagi naik mobil mungkin bisa abis 30-45 menit, sementara kalo naik motor mah 15-20 menit perjalanan sudah bisa duduk manis di kantor.

Sebenernya transportasi umum di Yogya ini sudah cukup baik dari segi ketersediaan. Yah paling nggak ada bis umum biasa dan bis transyogya. Tapi sayangnya, bis-bis ini kurang bisa menjangkau kawasan pemukiman di pinggiran kota. Padahal banyak banget orang “pinggiran” (baca: Sleman atau Bantul) yang kerja/sekolah di kota. Jadi daripada ribet gonta ganti bis mending bawa kendaraan sendiri aja. Lebih gampang. Coba bayangin deh, kalo rumahnya itu masuk dari jalan raya kira-kira 2 km dan satu-satunya rute bis yang lewat di jalan raya itu ga nglewatin kantor/sekolahnya, gimana susahnya pergi ke kantor/sekolah tiap pagi. SUSAH. Ehm.. sebenernya BISA sih tapi memang agak ribet dan butuh waktu lama. Jadi harus naik becak/sepeda dulu sampai jalan raya trus baru naik bis sampai ke titik pertemuan dengan bis lain yang menuju kantor/sekolahnya. Bisa tho tapi biasanya malas untuk melakukannya. Lebih gampang naik motor/mobil, sekali naik langsung sampai deh.

Baca lebih lanjut

Ayo coblos!

Pemilihan umum telah menanti kita
Sluruh rakyat menyambut gembira
….. ….. …. (lupa lanjutan liriknya hehe..)

Dulu lagu tema pemilu ini sering sekali diputar di televisi/ radio menjelang Pemilu. Saya agak lupa tepatnya, di masa apa tepatnya lagu ini diputar. Mungkin pas masa orde baru.

Apakah kita menyambut dengan gembira?
Rasanya nggak ya. Akhir2 ini rasanya pesimis sekali dengan masa depan bangsa ini. Banyak kasus negatif yang menimpa jajaran legislatif dan eksekutif. Banyak media yang mengupas tuntas tentang perilaku mereka.
Di sisi lain, tetap ada pemimpin2 daerah yang baik dan sunguh2 bekerja serta tokoh2 masyarakat yang benar2 mengabdi untuk kemajuan Indonesia. Ini yang mungkin kurang mendapat tempat di media sehingga gaung mereka sayup2 terdengar.

Baca lebih lanjut