teparr

2 minggu terakhir ini bener2 menguras energi. Malahan rasanya cobaan terberat dalam hidup 🙂 *lebay*

Sebenernya di balik semua “cobaan” ini yang paling penting adalah kami dah pindah ke rumah baru. Yay! Rasanya seneng. Tapi juga rada sedih meninggalkan yang lama.
Masih dalam proses adaptasi yang luar biasa. Daerah lebih sepi, tetangga belum banyak yang kenal, agak jauh dari warung terdekat, perjalanan ke kantor/ke rumah eyang lebih jauh. Jadi bener2 masih menyesuaikan waktu, jalan lewat mana, berapa lama, beli di mana. Belum lagi sekarang listrik pra bayar dan pake air galon jadi mesti punya stok voucher listrik dan air galon jadi kalo sewaktu2 habis, ga repot nyarinya. Indomaret harus keluar agak jauh.
Belum lagi barang2 yang masih belum selesai dikeluarin dari kardus. Masih bingung ini benda2 kecil mo ditaruh di mana. Maklum rumah yang ini fisiknya lebih kecil daripada yang dulu jadi mesti bener2 efisien penempatan barang2nya.
Capeklah banget sejak akhir maret hingga kini. Kok ya ga kelar2 sih beres2nya? 😦

Baca lebih lanjut

Iklan

caleg oh caleg

Abis ngobrol2 sama temen2 kantor tentang polah caleg di daerah mereka.
Ternyata banyak yang dapet “serangan” dari para caleg ya, baik secara individu maupun secara komunal.
Kami pribadi sekeluarga emang belum pernah mendapat sesuatu dari para caleg. Ntah kenapa. Mungkin karena tinggal di perumahan jadi ya relatif bersih lah. Kalo cuma selebaran yang dilempar di halaman ataupun diselipin di koran mah sudah biasa. Kalo yang tinggal di kampungnya nggak tau deh, mungkin pada dapet juga.
Yang jelas, kata temen yang seorang Pak RW, biaya sosialisasi di kampung itu bisa sampe 2 juta. Itu belum termasuk biaya ngasih-ngasih sesuatu ya. Jadi di kas kampungnya dia akhirnya ada dana tambahan kira2 hampir 10 juta. Hasil dari dikasi para caleg.
Baca lebih lanjut

harga gila

koran harga rumah
sumber: http://jogja.tribunnews.com/2014/03/24/harga-gila-rumah-di-yogya/

Ah.. artikel koran ini sungguh menggambarkan suara hatiku 🙂
“Hampir gila” kami cari rumah yang terjangkau dan lokasi yang tidak jauh dari kota. Pening liat brosur perumahan. Beneran deh. Harganya itu lhoh.. Dapet brosur harga murah tapi jauhnya banget.
Emang bener ya teori lokasi itu. Lokasi itu faktor penting. Lokasi favorit harga selangit.

Yogyakarta tidak cuma terkenal karena pendidikannya tapi juga karena pariwisata. Nggak heran, bisnis properti banyak tumbuh di sana. Dalam setahun, bisa puluhan hotel dan perumahan yang dibangun.
Pertanyaannya: siapa yang beli? Ntahlah. Saya ga punya data resminya.

Katanya harga rumahnya termahal kedua setelah Bali, sebelum Jakarta di lokasi strategis.
Yogyakarta dibandingkan dengan Bali dan Jakarta. Coba saya kasih data resmi BPS ya. Indikator yang saya pakai hanya PDRB per kapita dan Tingkat kemiskinan.
PDRB per kapita biasa digunakan sebagai pendekatan kesejahteraan penduduk di suatu wilayah, semakin tinggi tentu semakin sejahtera penduduknya. PDRB sendiri merupakan pendapatan dinikmati oleh penduduk suatu wilayah dengan seluruh kemampuan sumber dayanya. Per kapita artinya per penduduk. Jadi PDRB per kapita menunjukkan rata-rata nilai pendapatan setiap penduduk, termasuk bayi dan manula.

perbandingan pendapatan 4
sumber: bps diy, bps bali, bps dki jakarta

Berdasarkan data BPS tahun 2012 tersebut, yang terbaik adalah DKI Jakarta lalu Bali, setelah itu baru Yogyakarta. DKI Jakarta tiada tandingnya lah. Kalo Yogyakarta tentu saja pendapatan per kapitanya relatif kecil karena sebagian besar penduduknya bekerja di sektor pertanian dan perdagangan.

Nah kalo begitu kenapa harga tanah di Yogya relatif mahal?
INVESTASI
Yogyakarta dikenal sebagai daerah yang nyaman untuk ditinggali. Fasilitas pendidikan banyak dan tidak perlu diragukan kualitasnya. Fasilitas kesehatan relatif bagus. Fasilitas penunjang lainnya juga tersedia. Oleh karena itu, Yogyakarta masih menjadi favorit orangtua untuk menyekolahkan anaknya atau untuk pensiunan yang ingin leyeh2 enak.
Oleh karena itu, punya rumah di Yogya itu investasi wajib. Bisa buat tinggal kalo anaknya sekolah nanti ataupun tempat untu menghabiskan masa tua. Makanya bisnis properti di Yogya relatif tumbuh.
Siapa yang beli? Sedikit banyak bukan orang yang tinggal di Yogya (tinggal sehari2 dan bekerja yah). Banyak kok rumah2 yang kosong karena memang pemiliknya tidak tinggal di Yogya. Akhirnya cuma dikontrakkan atau dijadikan bisnis kos-kosan. Mereka ini relatif cukup berada sehingga mampu membeli dengan harga yang relatif mahal. Lha dengan harga yang relatif sama dengan Jakarta tapi bisa dapat lingkungan yang lebih nyaman. Coba siapa yang tidak tertarik?

Tapiiii… dampaknya adalah “tersingkir”nya warga asli Yogya. Mereka harus punya banyak uang untuk membeli rumah. Dengan pendapatan yang relatif lebih sedikit daripada pendapatan di kota besar lainnya, maka punya rumah cukup menjadi pe-er besar bagi sebagian warganya. Punya rumahnya juga harus di pinggir2, jauh dari fasilitas2 umum/sosial yang berkualitas. Mo ke mana2 kudu macet bersama sesama warga pinggiran lainnya.
Harga tanah di pinggiran Sleman mulai 1,5 jt/m. Harga rumah di pinggiran Sleman kisarannya mulai dari 350 juta. Ini beneran pinggir luar ya. Bukan pinggiran yang mepet dengan daerah Kota Yogyakarta.

Saya belum bisa membayangkan apa jadinya Yogyakarta 10 tahun ke depan. Macet, banyak perumahan, semakin banyak daerah tergenang di musim hujan. Apakah masih nyaman untuk ditinggali? Mungkin tidak.

Bukannya saya tidak ingin Yogya maju. Tapi semoga kemajuan Yogya tidak melindas warga asli. Warga yang tetap menjaga kearifan lokalnya untuk menghadapi kemajuan jaman.

feel @ home

Akhirnya 2 tahun terlewati sudah…

Kontrakan rumah kami selesai bulan ini. Rasanya sedih juga. Kami melalui banyak hal di rumah ini. Dari mulai hamil, lahirnya Lintang sampai sekarang si tole itu dah bisa cerita macem2. Dari awalnya ga suka sama rumah ini sampe sekarang merasa malas pindah J

Kami beruntung bisa dapat rumah kontrakan ini dalam waktu cukup singkat. Berawal dari kira-kira feb 2012 ketika suami memutuskan untuk pindah dari jkt/tangerang ke yogya untuk melanjutkan sekolah. Untuk sementara kami masih tinggal di rumah ortu sambil mencari rumah kontrakan yang dekat dan harga terjangkau. Eh ternyata harga rumah kontrakan di sekitar situ tuh mahal juga. Kaget euy. Mana lah waktu itu dana jg buat persiapan melahirkan. Cari-cari, muter-muter tiap sabtu minggu. Nitip nanya2 ma tukang sepatu, ma mbak2 ART, ma pak RT. Pokoknya dicoba smua. Soalnya selain harga yg harus ramah, lokasi juga penting. Harus seputaran rumah ortu biar ke depannya gampang 🙂

Baca lebih lanjut

dari bisa sampai lupa :)

Di jaman semua orang harus bisa ada di banyak tempat dalam waktu singkat, kemampuan yang satu ini sangat dibutuhkan. Karena transportasi umum di Indonesia (pada umumnya) masih belum bisa diandalkan soal ketersediaan dan ketepatan waktunya maka membawa kendaraan sendiri menjadi salah satu solusi bagi sebagian besar orang saat ini. Dampak besarnya adalah kemacetan yang semakin luar biasa pfiuhhh…

Saya termasuk orang yang membuat kemacetan itu karena setiap hari saya membawa kendaraan sendiri ke kantor. Kadang-kadang barengan ma suami kalo pas suami ga punya acara pagi atau sore. Di Yogya ini lebih enak pake motor daripada mobil, jadinya kita ke mana-mana naik motor kecuali pas pergi bareng anak dan keluarga lainnya. Keuntungan naik motor ini sih yang pasti bisa nyelip-nyelip. Kalo berangkat pagi naik mobil mungkin bisa abis 30-45 menit, sementara kalo naik motor mah 15-20 menit perjalanan sudah bisa duduk manis di kantor.

Sebenernya transportasi umum di Yogya ini sudah cukup baik dari segi ketersediaan. Yah paling nggak ada bis umum biasa dan bis transyogya. Tapi sayangnya, bis-bis ini kurang bisa menjangkau kawasan pemukiman di pinggiran kota. Padahal banyak banget orang “pinggiran” (baca: Sleman atau Bantul) yang kerja/sekolah di kota. Jadi daripada ribet gonta ganti bis mending bawa kendaraan sendiri aja. Lebih gampang. Coba bayangin deh, kalo rumahnya itu masuk dari jalan raya kira-kira 2 km dan satu-satunya rute bis yang lewat di jalan raya itu ga nglewatin kantor/sekolahnya, gimana susahnya pergi ke kantor/sekolah tiap pagi. SUSAH. Ehm.. sebenernya BISA sih tapi memang agak ribet dan butuh waktu lama. Jadi harus naik becak/sepeda dulu sampai jalan raya trus baru naik bis sampai ke titik pertemuan dengan bis lain yang menuju kantor/sekolahnya. Bisa tho tapi biasanya malas untuk melakukannya. Lebih gampang naik motor/mobil, sekali naik langsung sampai deh.

Baca lebih lanjut

Ayo coblos!

Pemilihan umum telah menanti kita
Sluruh rakyat menyambut gembira
….. ….. …. (lupa lanjutan liriknya hehe..)

Dulu lagu tema pemilu ini sering sekali diputar di televisi/ radio menjelang Pemilu. Saya agak lupa tepatnya, di masa apa tepatnya lagu ini diputar. Mungkin pas masa orde baru.

Apakah kita menyambut dengan gembira?
Rasanya nggak ya. Akhir2 ini rasanya pesimis sekali dengan masa depan bangsa ini. Banyak kasus negatif yang menimpa jajaran legislatif dan eksekutif. Banyak media yang mengupas tuntas tentang perilaku mereka.
Di sisi lain, tetap ada pemimpin2 daerah yang baik dan sunguh2 bekerja serta tokoh2 masyarakat yang benar2 mengabdi untuk kemajuan Indonesia. Ini yang mungkin kurang mendapat tempat di media sehingga gaung mereka sayup2 terdengar.

Baca lebih lanjut

libur (an) tak terduga

Tidak disangka, minggu ini kami mengalami long weekend yang luar biasa, tak terlupakan. Penyebabnya adalah meletusnya Gunung Kelud di Jawa Timur pada hari Kamis 13 Februari malam. Letusannya cukup dahsyat dan menyebabkan lebih dari 80 ribu jiwa mengungsi. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh kota-kota sekitarnya (Kediri, Blitar) tapi juga meluas hingga ke (sebagian) Jawa Tengah, DIY, dan (sebagian) Jawa Barat dalam bentuk sebaran abu vulkanis. Sampai saat ini, penduduk sekitar Kelud masih berada di pengungsian dan (sisa) debu abu vulkanis masih dirasakan oleh daerah-daerah yang terkena.

Kata beberapa orang, letusan Gunung Kelud terdengar sampai ke Yogya tapi saya dan suami tidak mendengarnya. Katanya suaranya seperti orang sedang memasang tiang pancang gedung itu. Jarak Gn Kelud – Yogya itu sekitar 230 km lho. Kebayang kan gedenya letusan!

Baca lebih lanjut