caleg oh caleg

Abis ngobrol2 sama temen2 kantor tentang polah caleg di daerah mereka.
Ternyata banyak yang dapet “serangan” dari para caleg ya, baik secara individu maupun secara komunal.
Kami pribadi sekeluarga emang belum pernah mendapat sesuatu dari para caleg. Ntah kenapa. Mungkin karena tinggal di perumahan jadi ya relatif bersih lah. Kalo cuma selebaran yang dilempar di halaman ataupun diselipin di koran mah sudah biasa. Kalo yang tinggal di kampungnya nggak tau deh, mungkin pada dapet juga.
Yang jelas, kata temen yang seorang Pak RW, biaya sosialisasi di kampung itu bisa sampe 2 juta. Itu belum termasuk biaya ngasih-ngasih sesuatu ya. Jadi di kas kampungnya dia akhirnya ada dana tambahan kira2 hampir 10 juta. Hasil dari dikasi para caleg.

Cerita temenku yang lain, setiap RW di kampungnya dikasi masing-masing 1 genset oleh satu caleg. Trus caleg lain ngasih tambahan peralatan masak buat ibu-ibunya. Ada juga yang ngasih amplop isi seratusan ribu.
Di tempat yang lain, jika ada sosialisasi caleg maka calegnya yang akan ditanya oleh warganya “mau ngasih apa?”. Jadi ini malah warganya yang nodong caleg. Alasannya sih daripada besok2 kalo jadi calegnya lupa, mending diminta aja sekarang apa yang dia punya.
Seorang petinggi partai juga pernah ditawari segepok uang dalam amplop untuk bantuan biaya kampanye oleh seorang caleg. Kan dana kampanye partai memang jumlahnya cukup besar karena butuh memobilisasi massa.

Di luar sana pasti masih banyak cerita sepak terjang caleg. Bagaimana mereka memberikan “tanda kasih” untuk warga, cara kampanye mereka via iklan, bagaimana mereka menggunakan cara2 tertentu untuk “kamuflase” (mengaburkan) supaya warga terkecoh memilih dia. Banyak yang negatif tapi juga tidak sedikit yang positif. Kadang membantu warga itu juga baik.

Politik uang itu nyata. Terjadi. Apapun bentuknya.
Caleg mengeluarkan banyak uang untuk warga. Alasannya supaya warga memilih dia. Warga butuh sarana/parasarana baru dengan cara meminta pada caleg. Alasannya sebagai supaya kinerja caleg bisa dinikmati karena pas uda jadi anggota dewan belum tentu inget sama mereka. Caleg senang, warga senang. Muter aja begitu, kayak lingkaran setan.

Gimana Indonesia bisa maju? Siapa yang berani mendobrak kebiasaan itu?
Yuk ah, sebagai warga negara kita juga jangan mau dibeli sama caleg.
Calon-calon caleg tahun 2019 juga belajar dong supaya tidak membayar warga untuk sebuah suara. Mbok tunjukkan prestasi pribadi supaya pemilih terkesan. Jangan cuma mengandalkan uang.
Kita sama-sama menjadikan Indonesia lebih baik lagi. Mulai dari sekarang.

Buat para caleg yang menang, selamat. Semoga bisa mewujudkan kebaikan untuk masyarakat.
Buat yang kalah, jangan stres, jangan marah. Bekerja untuk rakyat bisa dilakukan dengan berbagai cara, tidak hanya dengan jadi anggota dewan tho. Tetap semangat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s