belajar dari kasus F

Hari-hari belakangan ini di medsos dan koran banyak berita tentang seorang mahasiswi yang terkena kasus akibat tulisannya di salah satu medsos. beritanya ga cuma heboh di yogya aja tapi juga sampe me-nasional.
Sebenernya saya sih ga terlalu ngikutin ceritanya. Tau juga dari WA temen2. Tapi namapun orang Yogya, beritanya jadi jauh lebih sering terdengar. Buat saya apa yang mbak F alami dan rasakan itu cukup wajar karena memang pada masa itu suasana Yogya baru kurang enak karena pasokan BBM yang kurang. Namun memang yang terasa kurang pantas adalah pilihan kata-katanya ketika curhat di medsos.
Sayangnya curhat itu dilakukan di medsos dimana bisa menyebar dengan mudah dan akhirnya semua orang jadi tahu. Di situlah dimulai “penghakiman”. Ada yang re-share dan menyebarkan, ada yang komen2 bernada kasar, ada yang cari2 identitas sampe tau kosnya di mana, bahkan ada yang bikin akun palsu mirip akunnya mbak F. Akhirnya masalah melebar juga sampe ke masalah etnis. Parah kan..

Sebenarnya di dunia nyata, kita pasti juga kesel, apalagi urusan antri mengantri. Saya aja gak ikutan antri bensin waktu itu, males, wong di smua pom bensin antrian motor mengular, gak pagi ga siang ga malem. Tapiii pernyataan rasa kesel kan juga ga bisa sembarangan. Paling aman ya marah2 aja sendiri di dalam mobil/motor atau cerita ngomel2 ke suami/temen kantor.

Terkait masalah mbak F ini, kabarnya ada komentar2 yang memojokkan etnis asal mbak F ini dan menginginkan semua etnis tersebut pergi dari Yogya. Nah lho.. gimana kalo beneran itu terjadi dan dibalas dengan “diusir”nya orang Jawa dari daerah lain. Jadi perang antar saudara antar suku kan?
Memang masalah mbak F ga cuma sekedar curhat karena antri bensin tapi juga curhat/status2nya yang lain, yang membawa-bawa Yogya dengan kata2 yang kurang pantas. Cukup wajarlah jika banyak orang yang marah. Akhirnya sampe ke polisi.
Beritanya, sekarang sedang dilakukan mediasi supaya masalah ini tidak membesar dan menjaga situasi Yogya tetap kondusif. Karena gimanapun Yogya ini banyak pendatang jadi harus saling menghormati. Tuan rumah harus baik dan ramah, tamu juga harus santun dalam bersikap.

Hal yg bisa dipetik dari kasus ini (dan banyak kasus serupa lainnya), kita kudu berhati2 dalam curhat dan menulis status di berbagai medsos. Memang itu adalah akun pribadi tapi karena bisa diakses oleh banyak orang maka hal itu bukan menjadi hal yang pribadi lagi. Dampak dari rangkaian kata yang kita ciptakan juga tidak bisa diperkirakan. Tetaplah bijak dan santun.

Iklan

Satu pemikiran pada “belajar dari kasus F

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s