libur natal

Ah sebenernya natal ini ga liburan sama sekali hikssss….

Ya biasanya juga ga liburan khusus pergi ke mana gitu tp yg ini beneran ga berasa liburnya. Bahkan sehari sebelum dan sehari sesudah natal, kita masih masuk kantor aja. Namapun kerja di institusi pemerintah jadi tanggal libur kan manut sama libur pemerintah, cuma tanggal 25 dan 26. Dan kebetulannya, tahun ini suami ga ada libur natal dan akhir tahun. Cuma tanggal 24 dan 25 doang. Ishhh… kerja di perusahaan bernuansa agama yang natalan kok ya liburnya pelit banget. Alasannya sih karena perusahaan sedang ngejar target per Januari 2014 mereka sudah bisa berubah status perusahaan. Jadi cuti natal dan akhir tahunnya dialihkan menjadi tahun depan (2014) setelah proses pergantian status itu selesai. Huhuuu… padahal jatah cuti tahun depanku kan ya buat cuti natal 2014, ga bisa berlaku surut. Uhhh.. ga sinkron nih.. Ya sudah lah, diterima saja. Jadi judulnya tahun ini jatah liburku masih sisa. Harusnya bisa diambil untuk main berdua di rumah sama anak tapi ga enak ah ma mertua, biar aja mereka yang main sama si kecil, biar mereka puas wong jarang ketemu juga.

Seperti biasa, bapak ibu mertua dateng beberapa hari sebelum natal dan mereka akan nginep sampai tahun baru. Jadi ya pastinya kita punya acara keluarga ke keluarga phak ibu dan pihak bapak, yang dua-duanya di seputaran Yogya. Ditambah lagi, kita juga pengen ke keluarga mami papi di Solo dan Salatiga. Bingung deh atur jadwal karena tgl 26 uda mulai masuk. Akhirnya diputuskan kalo tgl 25 kita ke Solo n Salatiga tanpa nginep. Tgl 26 kita ke keluarga ibu di daerah Pakem dan tanggal 29 ke keluarga Bapak di daerah Bantul. Hari-hari selain itu ya di rumah atau ke kantor aja haha…

Tanggal 24 sore, saya ke gereja sama papi mami tapi si apak n si kecil ga ikut karena takut dia kecapekan, kan besoknya mo dibawa ke luar kota seharian. Tanggal 25 pagi ke gereja lagi abis itu langsung brangkat ke Salatiga. Jalanan lumayan rame jadi sampe sana uda jam 1 siang, langsung nyekar ke makam mbah trus lanjut ke rumah bude. Di sana cm bentar trus langsung melanjutkan perjalanan ke Solo. Nah ini jalannya macett, jadilah sampe Solo baru jam 5 dan langsung nyekar ke makam eyang. Baru deh abis itu mampir rumah tante buat mandi2 dan makan malem di rumah bude. Perjalanan pulang ke Yogya dimulai dari jam setengah 10an dan nyampe di rumah uda jam 11 lebih. Tepar… Syukurnya, lintang bisa tidur di jalan n makannya banyak jadi sehat-sehat aja.

Baca lebih lanjut

Iklan

Dies Natalis

Ini sedikit cerita dari Rapat Terbuka dalam rangka Dies Natalis UGM ke 64 tanggal 19 Desember kemaren.

Sebagai warga negara yang baik kan ya harus dateng walaupun sebenernya pagi itu hujan. Acaranya sperti biasa berisi pembacaan laporan tahunan Rektor dan pidato Dies Natalis oleh Prof. Ir. Sudaryono, M.Eng, Ph.D tentang Penguatan Teknologi dan Industri untuk Kedaulatan Bangsa.

Tahun ini tema Dies Natalis adalah Mengabdikan IPTEKS (ilmu pengetahuan, teknologi dan seni) untuk Kedulatan Bangsa. Kedaulatan disini mencakup kedaulatan wilayah, hukum, politik, ekonomi, pangan, energi, obat-obatan termasuk kedaulatan ilmu pengetahuan. Paradigma kedulatan didasari atas kesadaran adanya globalisasi dan keterbukaan pasar. Kedaulatan adalah kesadaran sebagai sebuah negara-bangsa yang berada dalam tata kuasa dunia yang penuh kompetisi dan seringkali tidak ramah, dimana pemerintah berkewajiban melindungi segenap rakyat dan tumpah darahnya. Dalam konteks ini, UGM berkomitmen untuk mendedikasikan IPTEKS-nya untuk mendukung Indonesia memenangkan kompetisi global, mengambil nilai tambah yang signifikan dari globalisasi dan keterbukaan pasar, serta ikut membangun tata dunia yang lebih adil. UGM berusaha tidak sebatas pada knowledge production tapi juga knowledge delivery agar IPTEKS yang dikembangkan bisa dimanfaatkan, baik dalam bentuk para sarjana maupun dalam bentuk publikasi, policy advocacy, pengabdian masyarakat, dan pengindustrian hasil-hasil penelitian. Secara internal, UGM berusaha memperbaiki SDM dan infrastrukturnya. untuk eksternal, UGM melakukan kerjasama dengan banyak pihak di berbagai bidang supaya penyebarluasan IPTEKS lebih optimal. (dikutip dari Laporan Tahunan Rektor UGM)

UGM juga memberikan Anugerah HB IX untuk Pro. Dr. Sri Edi Swasono atas perjuangannya dalam kedaulatan IPTEKS dan Ibu Hj. Ciptaning Sutaryo atas dedikasi kemanusiaannya. Selain itu, ada Anugerah UGM yang diberikan kepada Prof. Dr. Daoed Joesoef (bidang pendidikan), Ibu dr. Nafsiah Boi SpA, MPH (bidang kesehatan), Bapak Marandus Sirait (bidang lingkungan), dan Bapak N. Riantiarno (bidang seni).

Ohya, setiap tamu yang datang diberikan goodie bag. Isinya ya buku laporan dan pidato yang disampaikan itu. Tapi kemaren ada tambahan buku dan paket minuman herbal. Yang dibagikan adalah buku tentang jihad untuk kedaulatan pangan. Bukunya sendiri menyerupai bunga rampai tulisan2 pakar. Urusan pangan di Indonesia bukan hanya sekedar halal/ haram, kecukupan bahan pangan, keterbatasan sumberdaya tetapi juga bagaimana memproduksi, menyediakan, mendistribusikan pangan/bahan pangan dan mensejahterakan petani serta menjaga keberlangsungan sumberdaya. Ada tulisan yang menyebutkan bahwa sampai lebaran pun kita menikmati lebaran impor: ketupat berasnya impor, rendang sapinya impor, kue kering gandumnya impor, bumbu2 seperti gula dan garam juga impor. Haha.. Benar juga ya… Cukup menarik..

dies ugm-001

Foto saat penyerahan Anugerah HB IX dan Anugerah UGM

Nb: gambar diambil dari website UGM (ga punya foto sendiri, maklum rakyat jelata duduknya di deretan belakang)

Jaminan Sosial

Ini oleh-oleh dari Seminar Nasional “Membangun Jaminan Sosial Universal, Peluang dan Tantangan BPJS”.

Seminar ini diadakan oleh Fakultas Isipol UGM dalam rangkaian acara Dies Natalis ke-58 Fisipol. Berdasarkan undangan yang diterima, pembicaranya adalah Ibu Rieke Diah Pitaloka (Anggota DPR RI), Bapak Prof. Dr. Susetiawan S.U (Guru Besar Fisipol UGM), Bapak Agus Supriadi, MM (Direktur P.T. Jamsostek) dan Bapak dr. Tono Rustiana, M.M (Direktur P.T. Askes). Acaranya diadakan di Ruang Seminar Fisipol pada Kamis, 28 November 2013 dan dibagi menjadi 2 sesi.

Baca lebih lanjut

uniknya pasien dan dokter

Ikut prihatin dengan kasus dihukumnya dokter-dokter di Manado yang diduga akibat kelalaian dokter-dokter tersebut. Kasus ini meluas dengan adanya aksi mogok para dokter untuk solidaritas. Saya tidak akan membahas kasus tersebut, saya tidak berwenang dan beritanya kurang jelas untuk saya.

Saya tegaskan di sini, saya tidak memiliki pengalaman buruk dengan dokter ataupun RS. Semua dokter dan RS yang pernah saya datangi memberikan pelayanan terbaik mereka. Jadi postingan ini bukan untuk menjelekkan dokter atau RS tertentu. Saya hanya mencoba berbagi pikiran tentang perasaan, keinginan, dan harapan saya (orang awam bukan dengan latar belakang medis) jika saya datang ke dokter/RS.

Sebagai konsumen dari dokter dan RS, pasti semua ingin yang terbaik. Semua pasien pasti ingin sembuh dan sehat kembali. Tapi pasti caranya tidak instan. Dalam satu kasus, kita bisa berkali-kali kembali ke dokter atau dirujuk ke dokter-dokter lain, atau harus melalui pemeriksaan/uji bermacam-macam hingga akhirnya ditemukan penyebab sakit lalu dimulailah masa-masa pengobatan yang mungkin tidak sebentar waktunya. Semua butuh kerjasama dari semua pihak: pasien, dokter, keluarga pasien, perawat, petugas medis/non medis, dan tentu juga manajemen RS. Nah di bagian inilah yang terkadang ada missed.

Baca lebih lanjut