libur (an) tak terduga

Tidak disangka, minggu ini kami mengalami long weekend yang luar biasa, tak terlupakan. Penyebabnya adalah meletusnya Gunung Kelud di Jawa Timur pada hari Kamis 13 Februari malam. Letusannya cukup dahsyat dan menyebabkan lebih dari 80 ribu jiwa mengungsi. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh kota-kota sekitarnya (Kediri, Blitar) tapi juga meluas hingga ke (sebagian) Jawa Tengah, DIY, dan (sebagian) Jawa Barat dalam bentuk sebaran abu vulkanis. Sampai saat ini, penduduk sekitar Kelud masih berada di pengungsian dan (sisa) debu abu vulkanis masih dirasakan oleh daerah-daerah yang terkena.

Kata beberapa orang, letusan Gunung Kelud terdengar sampai ke Yogya tapi saya dan suami tidak mendengarnya. Katanya suaranya seperti orang sedang memasang tiang pancang gedung itu. Jarak Gn Kelud – Yogya itu sekitar 230 km lho. Kebayang kan gedenya letusan!

Jumat, 14 Februari

Pagi itu, kami berencana untuk berangkat jam 7 pagi karena suami harus mengajar pagi. Jadi dari pagi kami dah sibuk tanpa sempat melihat keluar jendela. Semakin mendekati jam 6 pagi, kami baru merasa kok gelap, padahal biasanya sudah terang. Lalu teman kasih kabar via WA kalo Gn. Kelud meletus dan sekarang hujan abu. Langsung deh kami liat jendela dan melihat jalan dan atap sudah putih. Kami tetap siap-siap seperti biasa, pikirnya hujan abu kan bisa ditembus dengan mobil (berdasarkan pengalaman Merapi dulu). Langit mulai agak terang sekitar jam 6.30 jadi hujan abunya terlihat makin jelas. Menjelang pukul 7, akhirnya kami cari-cari info dari kantor masing-masing dan ternyata kantor kami diliburkan hari itu. Ya sudah, seharian itu kami bener-bener di rumah. Makanan buat sendiri pakai bahan-bahan yang ada. Urusan cuci mencuci tetap jalan tapi urusan sapu menyapu di luar rumah dilewatkan saja sampe sore. Pintu dan jendela rumah selalu ditutup untuk mencegah debu masuk. Hujan abu baru berhenti sekitar jam 10 atau jam 11 (ga terlalu pasti wong ga sering ngecek).

jumat 3

suasana depan rumah bbrp saat stlh hujan abu, putih smua

Kebetulan hari itu Lintang bangun siang juga, mungkin karena merasa masih gelap terus ya. Jadi kita tidur-tiduran dan nonton film bertiga. Santai.. Anaknya juga seneng karena tiba-tiba ada bapak ibunya di rumah. Untungnya dia ga inget kalo hari libur biasanya sering pergi keluar jadi ga nagih “tindak mobil”. Kami cuma bilang kalo di luar baru hujan abu jadi cuma bisa liat luar dari jendela.

Update kabar dan suasana Yogya cm berdasar info teman2 dan TV. Ternyata cerita tentang Yogya sama banyaknya dengan cerita tentang pengungsi di sekitar Kelud hmmm…

jumat 1

ki : jl Yogya – Solo, ka: halaman belakang rumah saudara

sumber: WA teman dan saudara

jumat 2

kantor/ gedung pusat yang malah kaya kena salju 🙂

sumber: WA seorang teman

Sabtu, 15 Februari

Saatnya bangun siang karena kantor masih libur. Tapi hari ini kami harus pergi ke Magelang karena ada saudara menikah. Kami berangkat ke Magelang sekitar jam 10 pagi. Jalanan rame. Debu di mana-mana tapi jalanan cukup bersih dan nyaman karena selalu disiram oleh warga. Sayangnya, 2 hari ini Yogya sedang berangin dan ga hujan jadi debunya menyebar ke mana-mana. Kalo lagi angin kencang gitu, jalanan sampai ga keliatan dan kendaraan harus pelan-pelan.

Sampai di rumah sore, saatnya beres-beres rumah. Karena angin kencang itu, debu sampai masuk ke rumah lewat lubang udara. Jadilah semua barang berdebu dan harus dibersihkan. Udaranya juga jadi kotor, ga enak banget lah. Harus pake masker terus. Mobil juga harus dicuci. Walaupun ga dipake tapi tetap aja dekil.

Oh ya, sampe hari itu, sebagian besar Yogya belum hujan. Jadilah abu itu masih nempel di mana-mana. Ruas jalan yang bersih ya (biasanya) cuma jalan yang di kanan kirinya rumah atau toko. Pemiliknya biasanya cukup sering menyiram jalan. Tapi kalo ruas jalan yang pinggirnya kantor atau lahan kosong bisa dipastikan kalo debu doang.

sabtu

ki: jalan yogya – magelang sudah relatif bersih

ka: anak kecil yg dipaksa pake masker saputangan 🙂

Minggu, 16 Februari

Pagi itu kami sempat ke gereja dan belanja. Sudah ga punya persediaan sayur dan daging buat dimasak jadi harus belanja. Tapi cuma kebagian daun bayem dan genjer. Pfiuhhh.. Kadang orang-orang dalam kondisi bencana begini emang cenderung panic buying. Sayuran di supermarket sudah habis, daging-daging yang tersisa tinggal sedikit padahal itu baru jam 10 pagi lho. Heran. Padahal tadi pagi, mbak asisten bilang kalo di pasar, sejak hari minggu sayuran tetap ada dan masih segar tanpa abu. Ga tau juga dipasok dari mana itu sayuran.

Sampai di rumah ya bersih-bersih lagi. Debunya masih datang lagi ketiup angin. Ngepel, bersihin dapur dan lap-lap barang sekarang jadi kerjaan rutin tiap saat. Kalo siang hari, semua rasanya ga pernah bersih. Baru aja dilap eh begitu dipegang rasanya dah keset debuan lagi 😦

Saking kami sibuk beres melulu, si Lintang protes. Kalo main pasti harus ditemenin “ibu/bapak sini” sambil tunjuk-tunjuk depan dia. Akhirnya ngalah deh, beres-beresnya pas Lintang tidur.

Untungnya malam ini di daerah rumah kami hujan. Walaupun ga lama dan ga terlalu deras tapi cukup lumayanlah untuk membantu meluruhkan abu. Setelah hujan harus bersih-bersih lagi karena bekasnya becek kaya lumpur huhuhu…

untitled

 

jalan di hari minggu yg masih berdebu..

untitled

jalan disiram biar ga berdebu & debu2 di pinggiran dikumpulkan dlm karung2

Secara umum, abu akibat Kelud ini luar biasa. Dibandingkan dengan masa Merapi tahun 2010 dulu, yang sekarang ini terasa lebih parah. Kalo soal intensitas dan banyaknya abu yang ditumpahkan, saya kurang tau pasti. Yang pasti, abunya merata di seluruh Yogya. Yang membuat berat adalah angin kencang dan tidak hujan. Jadi walaupun atap rumah dan jalan sudah dibersihkan tapi kalo di sekitarnya ada pohon ya bisa dipastikan kalo daerah itu ga bisa bersih selama belum ada hujan yang menyapu abu dari pohon. Saya ingat, waktu Merapi itu walaupun hujan abu, kita masih tetap (agak) nyaman berkendara. Abunya juga banyak terbang karena tersapu hujan (kebetulan juga kejadian Merapi pas di musim hujan). Kalo sekarang, milih di rumah aja deh.

Hari Senin ini, aktivitas perkantoran sudah dimulai lagi. Agenda utamanya tentu bersih-bersih kantor. Anak sekolah masih libur sampai hari Selasa atau Rabu ya. Bandara juga masih belum buka. Jalanan juga masih berdebu karena masih belum hujan lagi.

Selamat hari Senin.

Semangat bersih-bersih!!!

Buat saudara-saudara di pengungsian semoga selalu sehat dan semangat.

Iklan

4 pemikiran pada “libur (an) tak terduga

    1. iya nih Jo, di sini aja mesti terus2an bersih2. ga ilang2. bayangin kalo tebalnya abu sampe 10 cm. kalo ada hujan sih lumayan membantu ya tp kalo yg di kediri/blitar sana jadi bahaya banjir lahar dingin. kasian juga.

  1. Hoalah, Lee… di Bandung pun kebagian abunya. Sedikit, padahal. Tapi tetep aja ganggu. Nggak kebayang yang di Yogya, apalagi yg di Kediri dan sekitarnya, huhuhu…
    Eh, gimana hari ini? Disini udah nyaris nggak ada abu, sih. Kemaren 2 hari berturut2 hujan, jadi lumayan nyapu itu abu yg nempel di jalanan…

    1. tetep masih berdebu mbak hiksss… tiada hujan soalnya. hujan terakhir hari selasa malam, itupun ga deres. masih terus berharap hujannnn biar cepet bersih.
      iya ya ampe ke bdg jg. dahsyat bener deh ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s