(hampir) 32

Sebenernya ga nyadar sih kalo saya sudah akan berumur 32. Pas tahun baru kemaren, ngitung-ngitung kalo 2014 dikurang 1982 itu ternyata 32. Doeng doeng!!! Seketika merasa udah tua karena semakin menjauhi angka 30 hikssss…. Time flies dan kayanya hidupku masih begini-begini aja… Maksudnya ga ada yang spesial misal liburan keluarga ke Eropa atau jadi kepala kantor gituh haha.. *berdoa supaya mimpi jadi kenyataan aminnnnn*

Eh tapi sekecil apapun, setiap berkat Tuhan harus disyukuri kan? Apalagi sebetulnya yang namanya berkat itu tidak pernah kecil. Setiap nafas kita itu aja adalah sebuah berkat yang luar biasa. Jadilah harusnya setiap hal yang terjadi pada kita adalah anugerah besar karena Tuhan masih berkenan memberikannya untuk kita. Iya sih, tapi kan.. Tuh kan selalu ada “tapi”, namapun juga manusia…

Umur yang sudah kepala 3 ini membuat saya lebih berhati-hati lagi. Uda ga muda lagi jadi kayanya semua hal harus dipikirkan secara matang karena sisa waktu ga banyak dan ga bisa putar ulang lagi. Beneran deh, rasanya tuh ga seperti waktu umur 20an dimana bisa bilang “masih 22 kok, ga usa buru-buru selesai kuliah, nikmatin dulu aja” atau “ah baru umur 25, nabungnya ntar aja toh belum mo nikah” atau “ah gak apa, masih ada waktu kok nyoba tes lagi tahun depan, umur masih 24”. Kayanya di masa itu, waktu itu berjalan tanpa ada konsekuensi berat di masa depan. Semua masih bisa dibuat santai karena masih ada tahun-tahun berikutnya dan umurnya memang masih muda. Tapi sekarang? Ga ada nanti-nanti, ga ada coba-coba. Sekali nanti-nanti, bisa-bisa ga akan pernah tercapai karena sudah ga punya kesempatan lagi.

Prioritas sekarang sih adalah keluarga. Kebetulan saat umur 32 nanti, umur perkawinan kami baru 3 tahun, umur Lintang 2 tahun, dan saya sudah bekerja selama 9 tahun di institusi yang sama (ishh.. yg ini kok ternyata betah amat). Urusan keluarga yang masih seumur jagung ini yang masih harus diberi perhatian. Kalo kerjaan mah biar aja lah, ga ada kepengenan khusus. Yang penting lancar. Masalah rotasi, promosi dan tanggungjawab itu adalah bagian dari pekerjaan. Jadi tunggu saja kejutannya setiap tahunnya. Yang menyenangkan dari pekerjaan saat ini adalah sering jalan-jalan. Jalan-jalannya bukan ke luar negeri tapi ke pelosok di Indonesia. Saya jadi bisa ngerasain jalan-jalan di tengah kebun sawit, jalan-jalan di hutan dimana sinyal hp timbul tenggelam, jalan-jalan nyebrang sungai di Sumatera. Pokoknya hal-hal menakjubkan yang ga pernah saya alami di Jawa (maklum tinggal di kota terus hehe). Tapi sejak berkeluarga, perjalanan itu menjadi agak berat karena harus meninggalkan anak berhari-hari dan berulang kali. Makanya untuk urusan pekerjaan saya mah pasrah, harapannya ga usah pergi lama-lama dulu. Lebih banyak kerja dari kantor saja walaupun itu artinya ga ada promosi.

Fokus pada tanggungjawab sebagai orangtua ini yang berat. Harus belajar terus menerus. Saya dan suami uda panik aja kalo denger/baca cerita-cerita “ajaib” anak-anak sekarang, sampai geleng-geleng kepala. Tiap hari mikir terus, kira-kira hari ini kami salah ga ya melakukan atau ngomong sesuatu, atau mbaknya atau eyangnya. Secara anak itu fotocopy kan ya… Mendidik anak adalah ketakutan terbesar saya. Kita hanya bisa mengajarkan kebaikan tapi hasilnya tidak bisa langsung dinikmati sekarang. Eh tapi biarpun mendidik anak itu berat, kami masih tetap berencana menambah anak sebelum usia saya mencapai 35 hehe..

Akhir-akhir ini banyak ‘bagaimana’ dan ‘seandainya’ yang selalu melintas di kepala saya. Bagaimana kondisi keluarga kami ke depan, apakah bahagia, apakah hidup susah? Apakah anak (anak) memiliki perilaku yang baik? Bagaimana pekerjaan saya dan suami, sukses atau biasa saja? Bagaimana dengan kesehatan kami, jangan-jangan ada salah satu dari kami yang sakit parah? Seandainya suami tidak ada apakah saya sanggup menjalani hidup ini? Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan (seringnya negatif) yang hadir begitu saja. Tapi kembali lagi, bahwa Tuhan tidak pernah memberikan sesuatu di luar kemampuan kita menerimanya so kita harus tetap melangkah dan menaruh hidup dan harapan kita pada Tuhan. Hal yang sangat mudah diucapkan tapi sungguh-sungguh berat dilaksanakan. Namun ketika saya melihat ke belakang, ke tahun-tahun yang sudah dijalani ternyata semua menyenangkan dan memang semua sudah diatur sedemikian rupa oleh Tuhan.

Tulisan ini sebenarnya renungan pribadi yang terpicu oleh mbak Jo yang sama-sama berumur 32. Anyway, selamat ulang tahun mbak.. semoga berkat Tuhan selalu melimpah untukmu sekeluarga. Selamat berkarya dalam Tuhan..

Happy-birthday-happy-birthday-fanpop-users-16476972-480-305sumber gambar di sini

Iklan

6 pemikiran pada “(hampir) 32

    1. hai mbak fit.. thanks yah kunjungannya.
      err… bikinnya sih terinspirasi GA-nya joice tp ga masuk syaratnya haha… jadi akhirnya buat renungan sendiri aja deh..

  1. Kadang kalau terlalu dipikir, masa depan jadi beban, kuatir, kalau sakit gimana, kalau anu gimana. Tapi waktu akan berlalu tanpa kita sadari, tau-tau nikah, tau-tau punya anak, tau-tau anak selesai kuliah, tau-tau mau pensiun, tau-tau sakit, tau-tau…..syukur saya sudah 56 tahun umurnya. Udah itu entahlah…. tau-tau tak bisa lagi ngeblog…..syukurlah… Salam kenal mbak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s