Dies Natalis

Ini sedikit cerita dari Rapat Terbuka dalam rangka Dies Natalis UGM ke 64 tanggal 19 Desember kemaren.

Sebagai warga negara yang baik kan ya harus dateng walaupun sebenernya pagi itu hujan. Acaranya sperti biasa berisi pembacaan laporan tahunan Rektor dan pidato Dies Natalis oleh Prof. Ir. Sudaryono, M.Eng, Ph.D tentang Penguatan Teknologi dan Industri untuk Kedaulatan Bangsa.

Tahun ini tema Dies Natalis adalah Mengabdikan IPTEKS (ilmu pengetahuan, teknologi dan seni) untuk Kedulatan Bangsa. Kedaulatan disini mencakup kedaulatan wilayah, hukum, politik, ekonomi, pangan, energi, obat-obatan termasuk kedaulatan ilmu pengetahuan. Paradigma kedulatan didasari atas kesadaran adanya globalisasi dan keterbukaan pasar. Kedaulatan adalah kesadaran sebagai sebuah negara-bangsa yang berada dalam tata kuasa dunia yang penuh kompetisi dan seringkali tidak ramah, dimana pemerintah berkewajiban melindungi segenap rakyat dan tumpah darahnya. Dalam konteks ini, UGM berkomitmen untuk mendedikasikan IPTEKS-nya untuk mendukung Indonesia memenangkan kompetisi global, mengambil nilai tambah yang signifikan dari globalisasi dan keterbukaan pasar, serta ikut membangun tata dunia yang lebih adil. UGM berusaha tidak sebatas pada knowledge production tapi juga knowledge delivery agar IPTEKS yang dikembangkan bisa dimanfaatkan, baik dalam bentuk para sarjana maupun dalam bentuk publikasi, policy advocacy, pengabdian masyarakat, dan pengindustrian hasil-hasil penelitian. Secara internal, UGM berusaha memperbaiki SDM dan infrastrukturnya. untuk eksternal, UGM melakukan kerjasama dengan banyak pihak di berbagai bidang supaya penyebarluasan IPTEKS lebih optimal. (dikutip dari Laporan Tahunan Rektor UGM)

UGM juga memberikan Anugerah HB IX untuk Pro. Dr. Sri Edi Swasono atas perjuangannya dalam kedaulatan IPTEKS dan Ibu Hj. Ciptaning Sutaryo atas dedikasi kemanusiaannya. Selain itu, ada Anugerah UGM yang diberikan kepada Prof. Dr. Daoed Joesoef (bidang pendidikan), Ibu dr. Nafsiah Boi SpA, MPH (bidang kesehatan), Bapak Marandus Sirait (bidang lingkungan), dan Bapak N. Riantiarno (bidang seni).

Ohya, setiap tamu yang datang diberikan goodie bag. Isinya ya buku laporan dan pidato yang disampaikan itu. Tapi kemaren ada tambahan buku dan paket minuman herbal. Yang dibagikan adalah buku tentang jihad untuk kedaulatan pangan. Bukunya sendiri menyerupai bunga rampai tulisan2 pakar. Urusan pangan di Indonesia bukan hanya sekedar halal/ haram, kecukupan bahan pangan, keterbatasan sumberdaya tetapi juga bagaimana memproduksi, menyediakan, mendistribusikan pangan/bahan pangan dan mensejahterakan petani serta menjaga keberlangsungan sumberdaya. Ada tulisan yang menyebutkan bahwa sampai lebaran pun kita menikmati lebaran impor: ketupat berasnya impor, rendang sapinya impor, kue kering gandumnya impor, bumbu2 seperti gula dan garam juga impor. Haha.. Benar juga ya… Cukup menarik..

dies ugm-001

Foto saat penyerahan Anugerah HB IX dan Anugerah UGM

Nb: gambar diambil dari website UGM (ga punya foto sendiri, maklum rakyat jelata duduknya di deretan belakang)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s