uniknya pasien dan dokter

Ikut prihatin dengan kasus dihukumnya dokter-dokter di Manado yang diduga akibat kelalaian dokter-dokter tersebut. Kasus ini meluas dengan adanya aksi mogok para dokter untuk solidaritas. Saya tidak akan membahas kasus tersebut, saya tidak berwenang dan beritanya kurang jelas untuk saya.

Saya tegaskan di sini, saya tidak memiliki pengalaman buruk dengan dokter ataupun RS. Semua dokter dan RS yang pernah saya datangi memberikan pelayanan terbaik mereka. Jadi postingan ini bukan untuk menjelekkan dokter atau RS tertentu. Saya hanya mencoba berbagi pikiran tentang perasaan, keinginan, dan harapan saya (orang awam bukan dengan latar belakang medis) jika saya datang ke dokter/RS.

Sebagai konsumen dari dokter dan RS, pasti semua ingin yang terbaik. Semua pasien pasti ingin sembuh dan sehat kembali. Tapi pasti caranya tidak instan. Dalam satu kasus, kita bisa berkali-kali kembali ke dokter atau dirujuk ke dokter-dokter lain, atau harus melalui pemeriksaan/uji bermacam-macam hingga akhirnya ditemukan penyebab sakit lalu dimulailah masa-masa pengobatan yang mungkin tidak sebentar waktunya. Semua butuh kerjasama dari semua pihak: pasien, dokter, keluarga pasien, perawat, petugas medis/non medis, dan tentu juga manajemen RS. Nah di bagian inilah yang terkadang ada missed.

Pasien sebagai si sakit tentunya ingin pelayanan yang baik, ramah dan cepat. Mana ada sih pasien yang mau menunggu giliran berjam-jam di lab,  di tempat rontgen, dan di dokter dengan kondisi tubuh yang sakit, lemas, dan ga enak? Tapi (mau tidak mau) harus tetap antri dan harus tetap ada toleransi antar pasien. Untuk itu sebetulnya pihak RS harus peka untuk mengakomodasi kenyamanan pasien. Ya minimal tempat duduk yang banyak dan ruangan yang ga bikin gerah. Dengan itu aja sebenernya pasien uda cukup tenang nunggu. Kadang di RS besar nan mahal pun tempat duduk sering kurang terutama pada peak hours jadilah yang ada sumpek dan risih liat orang duduk di lantai atau berdiri. Selain itu juga butuh pelayanan yang ramah dan tidak jutek walaupun namanya pasien pasti juga sering kesel dan ga sabaran.

Dokter-dokter di RS apalagi di RSUD dapat dikatakan punya beban berat. Biasanya pasien melimpah namun tenaga kesehatan terbatas. Setiap hari mereka harus berhadapan dengan pasien, mulai dari level penyakit yang ringan sampai yang berat. Termasuk juga terpapar resiko tertukar penyakit (ini termasuk keluarganya ya, kan kuman/virus/bakteri bisa nempel di mana saja). Dokter harus benar-benar teliti membaca rekam medis pasien, mendengarkan keluhan, memeriksa kondisi karena kesalahan sekecil apapun bisa berakibat fatal. Pekerjaan dokter bertaruh dengan nyawa manusia. Jadi berhati-hatilah dan telitilah wahai dokter karena pasien mempercayakan dirinya kepada anda. Bertindak dan melayanilah dengan hati.

Oya sebagai informasi, hingga tahun 2010, rasio dokter umum per 100.000 penduduk adalah sebesar 30,98, sedangkan rasio dokter spesialis per 100.000 penduduk adalah sebesar 8,14 (data dari sini ya). Untuk rasio dokter umum belum ideal karena harusnya mencapai 40, tapi untuk dokter spesialis sudah ideal karena targetnya hanya 6. Namun ini dilihat secara jumlahnya ya, tetap masih harus diperhatikan juga persebarannya. Apakah semua terkumpul di Jawa atau yang di ujung Aceh, Papua dan kawasan terluar/perbatasan juga sudah terpenuhi kebutuhannya? Ini nih tugas Pemerintah untuk mengatur ketersediaan/kecukupan tenaga medis di setiap daerah. Namun juga dibutuhkan kerelaan hati para dokter untuk ditempatkan di daerah jauh yang kurang fasilitas.

Bapak ibu dokter tersayang, kami-kami pasien awam ini juga mau lho diceritain tentang sakit kami. Dijelaskan penyebab sakitnya, riwayatnya, pengobatannya, cara pencegahannya. Jangan pelit lah berbagi ilmu dengan kami. Kami sebagai pasien berhak tahu atas penyakit, tindakan dan pengobatan yang diberikan pada kami. Jangan hanya bilang “Ah, cuma sakit biasa. Nggak apa-apa. Ini saya kasih obat. Pasti sembuh”. Iya, kami memang sembuh dengan obat yang diberikan tapi itu tidak mengedukasi. Diskusilah dengan pasien. Pasien tidak mungkin lebih pintar dari dokter karena anda lah yang sekolah pendidikan dokter+spesialis hingga bertahun-tahun. Dokter juga senang kan kalo punya pasien yang pintar dan bisa diajak diskusi bukannya cuma bengong pasrah? Atau jangan-jangan (sebagian) dokter menganggap bahwa kegiatan diskusi dengan pasien itu membuang waktu dan menggangu? Sangat memprihatinkan kalo memang itu yang ada di pikiran para dokter. Saya pribadi sangat senang jika bertemu dokter yang bisa ditanya macam-macam dan mau menerangkan hal-hal terkait kesehatan dan gaya hidup. Dokter yang tidak sok sibuk dan tidak merasa diburu waktu walaupun pasiennya banyak. Beruntungnya saya bisa menjadi pasien mereka.

Eh tapi mohon diingat juga bahwa dokter juga manusia yang punya emosi, rasa capek, rasa pengen liburan, rasa kangen sama keluarga, dll. Ya coba aja, seorang dokter harus praktek dari pagi, menghadapi pasien banyak, dan on call 24 jam setiap hari. Belum lagi dokter harus selalu update ilmu via baca2 buku/jurnal kedokteran atau ikut seminar di dalam/luar negeri. Jadi tetap butuh waktu buat  refreshing dan kumpul-kumpul/liburan sama keluarga/teman nya tho?

Untuk kita yang awam ini. Coba mulai baca-baca artikel kesehatan. Sekarang semakin banyak tulisan-tulisan kesehatan yang ditulis oleh praktisi kesehatan atau gabunglah dengan grup-grup milis yang juga diasuh oleh dokter. Topiknya sangat beragam, mulai dari tumbuh kembang bayi/anak hingga persoalan dewasa/lansia. Baca dan pelajari sebagai bahan diskusi dengan dokter. Kalo kira-kira diagnosis/tindakan dokter kurang sesuai dengan yang anda baca, tanyakan dan diskusikan, karena terkadang dokter bisa (tidak sadar) melakukan kesalahan. Tapi jangan jadi sok pinter juga. Ingat yang belajar ilmu kedokteran itu dokter bukan kita. Bicaralah sejelas-jelasnya pada dokter mengenai keluhan kita (kapan mulainya, rasanya seperti apa, di bagian mana yang sakit, sudah diberi obat apa, dll) karena itu akan mempermudah diagnosis dokter. Bukan hanya sekedar “Rasanya sakit Dok, pokoknya ga enak deh”. Bagaimana dokter bisa mendiagnosis kalo keterangan si sakit cuma minimalis. Ceritalah mendetil dan tanyalah sebanyak mungkin sampai puas. Apalagi sekarang banyak dokter yang bersedia ditanya via SMS jadi manfaatkan itu dengan sebaik-baiknya.

Untuk RS, tolong jangan hanya memikirkan keuntungan semata. Anda memang harus menggaji pegawai tapi bukan berarti anda abai dengan keselamatan pasien. Apakah etis, pasien gawat harus membayar dulu untuk mendapatkan perawatan? Toh si sakit anda “tahan” di situ jadi tidak mungkinlah mereka melarikan diri tanpa membayar.

Akhirnya, komunikasi itu wajib hukumnya. Faktor ini penting dalam menjaga hubungan yang harmonis semua pihak. Semua pihak: RS, dokter, perawat, pasien, keluarga pasien, tenaga medis dan non medis lainnya perlu saling bicara supaya tidak ada masalah. Kalo ada masalah ya dicari solusi bersama. Jangan ada pihak yang merasa lebih penting, lebih dibutruhkan, lebih pintar, lebih hebat dan lebih-lebih lainnya daripada pihak lain. Toh semuanya akan bermuara pada kebahagiaan semuanya. Pasien senang akhirnya balik lagi ke dokter dan RS yang sama. Keuntungan buat semua kan??

Pemerintah juga jangan diem aja dong. Biaya kesehatan semakin mahal tapi orang sakit juga main banyak karena lingkungan juga makin ga sehat. Jadi tolong dipikirkan bagaimana masyarakat bisa sehat dan ga tambah sakit memikirkan biaya pengobatan. Iri juga mendengar cerita dari luar negeri dimana pengobatan dasar itu gratis dan layanan yang diberikan tetap baik. Ah kapan Indonesia bisa begitu? Jangan sampai slogan “orang miskin dilarang sakit” itu berlangsung selamanya.

health-beauty-laughter-medicine-prescriptions-pharmaceutical-health-jhan1534l

gambar ambil dari sini

seperti kata di gambar ini maka tertawa dan bergembiralah

Ingat: Hati yang gembira adalah obat….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s